PELACUR
IDEALISME MENJELANG PILPRES 2014
Fenomena politik,
menjelang pilpres kini sudah merasuk dalam ubun-ubun rakyat indonesia. Politik yang
apatis, dilematik, parokial, maupun kontroversional sudah mewarnai pola pikir
masrakat indonesia secara keseluruhan. Pola pikir serta gaya partisipasi
politik seperti ini merupakan sesuatu hal yang sangat menarik serta merupakan
suatu kemajuan bagi rakyat indonesia dalam menganalisis fenomena politik
menjelang pilpres 2014. Walaupun tidak bisa dipungkiri pola pikir yang seperti ini
seakan telah melahirkan fanatisme buta bagi segelintir orang yang coba menganilisis fenomena politik secara
spekulatif. Dan tak jarang pula sebagian orang, rela menggadaikan harga diri
demi sebuah idealisme yang belum di kaji secara mendalam, untuk faliditas serta
kebsahan datanya. Dan bahkan tidak jarang kita jumpai, seperti para pemikir
politik, pengamat politik, para intelektual yang terdidik secara disiplin, para
akademisi, para aktifis, serta para profesor dan para aktor politk, mereka rela
mengadaikan idealismenya demi untuk mendongkrak citra sala satu calon presiden
yang mereka puja. Yang tadinya mereka
diharapkan bisa memberikan pendidikan politik serta menjadi mediasi ditengah
gemelut problema politik menjelang pilpres 2014 dan bisa di kaji secara objektik
justru hal tersebut tambah diperuncing sehingga masalahnya yang tadinya tumpul
kini menjadi tajam. Maka janganlah heran jika ada sebagian orang terkadang
mengeluarkan argumen serta statmen yang keluar dari jalaur-jalur etika politik
atau bisa di identikkan dengan dengan pelacur idealisme. Pelacur idealisme
adalah sesorang yang secara sadar maupun tidak sadar melakuan pembicaran yang
sifatnya positif untuk orang yang disenagi dan negatif untuk orang yang dibenci
demi untuk kepuasan ideologi semata. Dan para pelacur idealisme sudah sangat sering
ditemukan baik itu dimedia massa, (televisi, koran dll) terlebih lagi di media
jejaring soial (seperti twitter, facbokk dll).
Ditengan kemelut
pilpres saat ini, isu-isu kontroversial menjadi perdebatan panjang yang seakan
tak berujung. Baik itu berbentuk kampanye hitam, kampanye negatif, maupun
politik pencitraan, yang didesinge secara kontroversial agar dijadikan
propoganda sosial di tengan masyarakat luas. Terlebih, yang menjadi isu kontroversial
lagi yaitu keberpihakan media televisi terhadap sala satu calon presiden dari
dua calon yang bertarung pada pilpres 2014 sekarang ini yaitu No.1
Prabowo-Hatta Dan No.2 Jokowi-Jk. Media seperti yang kita ketahui sebagai
lembaga yang independen, dituntut harus objektif dalam melakukan pemberitaan
justru yang terjadi adalah sebaliknya. Media hari ini justru dijadikan
kendaraan politik bagi politisi yang berkepentingan. Semisal Metro TV, yang
selalu mendongrak citra Jokowi-Jk dengan isu-isu yang sifatnya positif dan
membombardir Prabowo-Hatta dengan isu-isu negatif begitupun sebaliknya dengan
TV One, mendongkrak citra Prabowo-Hatta dan memborbadir Jokowi-Jk dengan
berita-berita negatif. Begitupun dengan media sosial hari ini, melakuakn hal
yang sama. Dan dari sinilah sumber pelacur idealisme lahir dan mempengaruhi
opini-opini masyarakat sehingga masyarakat terpancing melakukan hal yang sama.
Lahirnya berbagai
berita serta artikel yang berbentuk propoganda, serta komentar-komentar lebih
propoganda lagi, serta analyisis-analysis kritis, tajam dan tak berperasaan, memuji,
memuja dan mendewakan, seakan-akan penilannyalah serta pilhanyalah yang tepat
serta benar dan orang lain menilai dan memilih yang salah, egoisme dalam
perdebatan, tidak menghargai pendapat orang lain, inilah yang menjadi ciri khas
para pelacur idealisme. Analysis tajam serta kritis terhadap sebuah permasalahn
memang sangat dibutuhkan dan justru dapat dijadikan kunci utama dalam memcahkan
suatu masalah akan tetapi tidak menghujah secara brutal dan tak berperasan yang
tadinya suatu masalah bisa dijadikan sebuah pembelajaran justru yang terjadi
adalah sebaliknya yaitu masalah yang panjang, dan dibaratkan suatu masalah tak
berakar dengan jelas dan tak berujung dengan pasti.
Fenomena politk seperti
ini tidak menceerminkan dan meberikan pendidikan politik yang baik bagi
masyarakat luas, justru yang terjadi adalah masyarakat ikut terjebak dalam
pemikiran pelacur idealisme seperti ini. Yang ditakutakan jika fenomena seperti
ini terus dibiarkan dan menjadi budaya politik maka ini akan menjadi penghambat
untuk tumbuhnya pengetahuan serta pendidikan poltik yang baik bagi masyrakat
luas tentang hakikat serta makna politik yang sebenarnya dan sejatinya ilmu
politk. Dan yang lebih ditakutkan lagi jika hal ini terus dibiarkan maka
semakin bertambah dan kuatnya persepsi masyarakat tentang citra politik yang
buruk, kotor dan sebagainya. Padahal jika kita menelaah secara spesifik dan
mengkaji secara mendalam tetang makna politk yang sebenarnya maka kita akan
menemukan kehidupan yang begitu damai, merangkul yang namanya perbedaan, merangkai
yang namanya bingkai kebersamaan, hingga lahirlah yang namanya kebinekaan.
Oleh
: Hariudin, Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ushuluddin Filsafat Dan
Politik, Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar. 2014.