Jumat, 13 Juni 2014

PELACUR IDEALISME MENJELANG PILPRES 2014



PELACUR IDEALISME MENJELANG PILPRES 2014
Fenomena politik, menjelang pilpres kini sudah merasuk dalam ubun-ubun rakyat indonesia. Politik yang apatis, dilematik, parokial, maupun kontroversional sudah mewarnai pola pikir masrakat indonesia secara keseluruhan. Pola pikir serta gaya partisipasi politik seperti ini merupakan sesuatu hal yang sangat menarik serta merupakan suatu kemajuan bagi rakyat indonesia dalam menganalisis fenomena politik menjelang pilpres 2014. Walaupun tidak bisa dipungkiri pola pikir yang seperti ini seakan telah melahirkan fanatisme buta bagi segelintir orang  yang coba menganilisis fenomena politik secara spekulatif. Dan tak jarang pula sebagian orang, rela menggadaikan harga diri demi sebuah idealisme yang belum di kaji secara mendalam, untuk faliditas serta kebsahan datanya. Dan bahkan tidak jarang kita jumpai, seperti para pemikir politik, pengamat politik, para intelektual yang terdidik secara disiplin, para akademisi, para aktifis, serta para profesor dan para aktor politk, mereka rela mengadaikan idealismenya demi untuk mendongkrak citra sala satu calon presiden yang mereka  puja. Yang tadinya mereka diharapkan bisa memberikan pendidikan politik serta menjadi mediasi ditengah gemelut problema politik menjelang pilpres 2014 dan bisa di kaji secara objektik justru hal tersebut tambah diperuncing sehingga masalahnya yang tadinya tumpul kini menjadi tajam. Maka janganlah heran jika ada sebagian orang terkadang mengeluarkan argumen serta statmen yang keluar dari jalaur-jalur etika politik atau bisa di identikkan dengan dengan pelacur idealisme. Pelacur idealisme adalah sesorang yang secara sadar maupun tidak sadar melakuan pembicaran yang sifatnya positif untuk orang yang disenagi dan negatif untuk orang yang dibenci demi untuk kepuasan ideologi semata. Dan para pelacur idealisme sudah sangat sering ditemukan baik itu dimedia massa, (televisi, koran dll) terlebih lagi di media jejaring soial (seperti twitter, facbokk dll).
Ditengan kemelut pilpres saat ini, isu-isu kontroversial menjadi perdebatan panjang yang seakan tak berujung. Baik itu berbentuk kampanye hitam, kampanye negatif, maupun politik pencitraan, yang didesinge secara kontroversial agar dijadikan propoganda sosial di tengan masyarakat luas. Terlebih, yang menjadi isu kontroversial lagi yaitu keberpihakan media televisi terhadap sala satu calon presiden dari dua calon yang bertarung pada pilpres 2014 sekarang ini yaitu No.1 Prabowo-Hatta Dan No.2 Jokowi-Jk. Media seperti yang kita ketahui sebagai lembaga yang independen, dituntut harus objektif dalam melakukan pemberitaan justru yang terjadi adalah sebaliknya. Media hari ini justru dijadikan kendaraan politik bagi politisi yang berkepentingan. Semisal Metro TV, yang selalu mendongrak citra Jokowi-Jk dengan isu-isu yang sifatnya positif dan membombardir Prabowo-Hatta dengan isu-isu negatif begitupun sebaliknya dengan TV One, mendongkrak citra Prabowo-Hatta dan memborbadir Jokowi-Jk dengan berita-berita negatif. Begitupun dengan media sosial hari ini, melakuakn hal yang sama. Dan dari sinilah sumber pelacur idealisme lahir dan mempengaruhi opini-opini masyarakat sehingga masyarakat terpancing melakukan hal yang sama.
Lahirnya berbagai berita serta artikel yang berbentuk propoganda, serta komentar-komentar lebih propoganda lagi, serta analyisis-analysis kritis, tajam dan tak berperasaan, memuji, memuja dan mendewakan, seakan-akan penilannyalah serta pilhanyalah yang tepat serta benar dan orang lain menilai dan memilih yang salah, egoisme dalam perdebatan, tidak menghargai pendapat orang lain, inilah yang menjadi ciri khas para pelacur idealisme. Analysis tajam serta kritis terhadap sebuah permasalahn memang sangat dibutuhkan dan justru dapat dijadikan kunci utama dalam memcahkan suatu masalah akan tetapi tidak menghujah secara brutal dan tak berperasan yang tadinya suatu masalah bisa dijadikan sebuah pembelajaran justru yang terjadi adalah sebaliknya yaitu masalah yang panjang, dan dibaratkan suatu masalah tak berakar dengan jelas dan tak berujung dengan pasti.
Fenomena politk seperti ini tidak menceerminkan dan meberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat luas, justru yang terjadi adalah masyarakat ikut terjebak dalam pemikiran pelacur idealisme seperti ini. Yang ditakutakan jika fenomena seperti ini terus dibiarkan dan menjadi budaya politik maka ini akan menjadi penghambat untuk tumbuhnya pengetahuan serta pendidikan poltik yang baik bagi masyrakat luas tentang hakikat serta makna politik yang sebenarnya dan sejatinya ilmu politk. Dan yang lebih ditakutkan lagi jika hal ini terus dibiarkan maka semakin bertambah dan kuatnya persepsi masyarakat tentang citra politik yang buruk, kotor dan sebagainya. Padahal jika kita menelaah secara spesifik dan mengkaji secara mendalam tetang makna politk yang sebenarnya maka kita akan menemukan kehidupan yang begitu damai, merangkul yang namanya perbedaan, merangkai yang namanya bingkai kebersamaan, hingga lahirlah yang namanya kebinekaan.
Oleh : Hariudin, Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ushuluddin Filsafat Dan Politik, Universitas  Islam Negeri Alauddin Makassar. 2014.